Benda Sejarah Perang Korea yang Gokil!

Di blogpost sebelumnya gue rada nyinggung masalah sejarah Korea. Bukan apa-apa, gue masi berasa kurang puas aja gitu di blogpost yang sebelum ini. Jadi di post kali ini mari kita simak beberapa hasil sejarah Korea yang mantap! Tidak cuma satu, tapi tidak sampe tiga, apalagi empat! Ya, gue cuma bakal ngbahas DUA benda sejarah Korea yang BADASS!

1. Geobukseon (거북선) a.k.a Turtle Ship

 

Credit: lifeinkorea.com

~ Admiral Yi mewariskan sebuah senjata sakti, berupa kapal, berlayar dua, bermulut satu, berkepala naga ~

Alkisah, di tahun 1591, ada seorang admiral Korea bernama Yi Sun Sin (이순신) abis ngobrol-ngobrol sama bawahannya (mungkin sembari minum soju dan makan samgyeobsal juga sih), tiba-tiba tercetus pikiran bahwa Jepang dianggap bisa melancarkan buang air besar invasi ke ranah ginseng. Dari obrolan itu, (mungkin besoknya, setelah sadar dari hangover semalam) Admiral Yi mulai berpikir untuk membangkitkan kembali Geobukseon.

Credit: onlinehome.us

“Wah, klo diliat-liat, panggangan samgyeopsal ini mirip tempurung kura-kura ya. Btw, ngomongin masalah kura-kura, …”

Oh ya, sebelum jamannya si Admiral Yi, Geobukseon sebenernya udah pernah ada prototipenya, malahan udah ada 100 tahun sebelumnya. Lah, terus ngapa si Admiral Yi repot-repot bikin lagi? Soalnya dia jagoan, bukan pemalas, dan rajin mencatat! Doi kayanya pengen ngembangin desain Geobukseon lebih lanjut biar lebih siap menghadapi angkatan laut Jepang. Pada akhirnya, pada tanggal 12 Maret 1592, Admiral Yi mulai ngetes meriam buat dipasang di Geobukseon. Dan tanggal 27 Maret 1592, Geobukseon versi Admiral Yi beres dan diluncurkan. Koq yakin amat ampe tanggal-tanggalnya? Kan tadi gue bilang, Admiral Yi rajin mencatat. Ini diambil dari tulisannya sendiri di buku hariannya. Tentu! Admiral Yi Sun Sin pun punya buku harian, tapi seperti pria badass nan tangguh pada masa itu, isi buku hariannya adalah siasat perang. Bukan keluh kesah penuh kegalauan macam muda-mudi sekarang, apalagi berisikan “nama, ttl, makanan favorit, minuman favorit, hobi, dll” macam di SD gue dulu. *mendadak hening*

diary jaman SDContoh “diary” jaman SD tahun 90an. Dan ini bukan punya penulis. Suer!

Pernah maen Age of Empires? Apa? Ga tau Age of Empires? TERLALU!! Anyway, di Age of Empires ini klo lo maen pake Jepang, salah satu karakteristiknya adalah movespeed unitnya lebih cepat. Kenyataannya, kapal perang Jepang emang lebih gesit di era itu. Nah si Geobukseon ini make bahan yang mayan berat, jadinya kalah gesit ama Jepang. Tapi justru itu yang diincer ama Admiral Yi! Geobukseon emang kalah gesit, tapi jadi stabil dan lebih kokoh! Di saat Jepang mengandalkan musket untuk serangan jarak jauh, kekokohan Geobukseon bikin Admiral Yi bisa masang meriam. Jenis-jenis meriam yang dipasand gi Geobukseon punya jarak efektif 200-1200 meter! Tau jarak serang musket yang dipake ama Jepang? Cuma 100 meter. Etapi kan Jepang bisa pake taktik Boarding klo kapal mereka lebih gesit? (Oh, taktik ini tidak mengharuskan mereka untuk berada di ruang tunggu setidaknya 1 jam sebelum keberangkatan) Eits! Bukan Admiral Yi namanya klo ga mikirin hal sepele macem gitu. Kaya namanya, Geobukseon punya atep sebagai tempurung! Dan doi masang paku-paku di atep kapal, dan liciknya, ditutupin pake semacem tiker gitu. Jadi klo ada yang mo boarding, ketancep dengan sukseslah kaki mereka di atas atep kapal.

turtleship_60s_20armour-upr_494Ati-ati boi. Kepeleset di sini sembuhnya ga cukup pake band-aid ama betadine.

Klo serangan jarak jauh blom cukup, Geobukseon ini lantas bakal maju dan NABRAK kapal musuh dari samping. Trus? Nembakin dari jarak super deket. Pernah ditembak cewe airsoft gun dari jarak deket? Klo blom, cobain, trus rasa sakitnya kaliin 1000 (ato lebih). Itu lah yang dialami ama kapal sial yang jadi objek nafsu brutalitas Geobukseon. Dua orang komandan Jepang curhat tertulis klo mereka diserang Geobukseon (contoh buku harian pria tangguh lagi) dan serangannya sempet sedeket 5-10 meter, dan hasilnya adalah hampir semua bagian kapal mereka hancur berantakan. Literally, kaya kapal pecah. Hmm, such a BADASS warship!

Credit: tumblr.com

Admiral Yi: “Ini yang kalian bilang kapal pecah? Psh. Amateurs.”

Geobukseon ini pada akhirnya ikutan menggagalkan serangan invasi dari Jepang yang dipimpin Hideyoshi Toyotomi. Uniknya, salah satu panggilan Hideyoshi Toyotomi adalah “little monkey”. Kenapa unik? Karena secara kebetulan, di Filipina ada cerita anak-anak tentang “The Monkey and The Turtle”. Dan well, di cerita ini pada akhirnya si monyet keki karena dikerjain ama si kura-kura. Di air. What a coincidence!

2. Hwacha (화차)

Hwacha-Shinkigeon_StyleBe afraid! Be very afraid!

Bukan, ini bukan judul lagu Super Junior. Mirip sih, tapi dibanding Super Junior, ini bakal jauh lebih meledak dan melesat (literally). Klo diartiin ke bahasa Inggris, Hwacha adalah Fire Vehicle. Beda dengan Geobukseon, ini dari namanya (dan gambar di atas) aja udah mayan ngeri. Tapi sama dengan Geobukseon, efeknya di medan perang lebih ngeri dari namanya.

Jaman sebelum eranya Admiral Yi, ada lagi seorang tangguh bernama Choi Museon (최무선). Tapi Bung Choi ini tangguh pada bidang ilmu, doski adalah seorang “scholar”. Pas masih kecil, Bung Choi ini sempet ngliat kembang api yang dibuat orang Cina. Kayanya gara-gara takjub, terpana, terkesima, tapi ga sampe tertukar kaya seorang putri di suatu cerita tanah air, doski kemudian cari-cari cara ngbuat mesiu pas udah gede. Ga gampang buat Bung Choi bikin mesiu, soalnya jaman itu mesiu dijaga ketat resepnya ama Cina. Emang dasar sedikit licik, Bung Choi kemudian dapet resep mesiu dari pedagang Cina yang kelewat doyan ama duit. Akhirnya pun Choi Museon,S.T. (scholar diterjemahinnya sarjana soalnya ama Google Translate) dengan resep mesiu yang didapet bisa bikin berbagai jenis senjata. Oh, btw, dia akhirnya dikasih lab sendiri ama pemerintah buat riset, dan usia dia pas dikasih lab sekitar 50 tahun. Jadi lebih tepat manggil Prof. Choi kayanya ya. Dan Hwacha, adalah salah satu penurunan dari temuannya. Sayangnya, begitu Hwacha pertama berhasil dibuat tahun 1409, doi udah keburu meninggal.

Hwacha ini diakui dunia sebagai the world’s first multiple rocket launcer. Jaman maen Resident Evil ato Tomb Raider dah seneng banget kan tuh klo dapet Rocket Launcher, nah ini MULTIPLE rocket launcher. Bentukannya beneran ga beda jauh ama multiple rocket launcher jaman sekarang. Emang sih Hwacha amunisinya masih panah, tapi bukan sembarang panah sodara-sodara! Salah satu varian panah yang dipake di Hwacha ini namanya Singijeon (신기전), yang sebenernya udah mirip banget ama roket karena ujung panahnya bisa meledak.

Hwacha vs. Modern Multiple Rocket LauncherKiri: Hwacha. Kanan: Multiple rocket launcher masa kini. Beda tipis!!

Salah satu momen yang paling badass dari Hwacha ini mungkin adalah di Battle of Haengju. Pasukan Korea yang dipimpin oleh Jenderal Kwon Yul (bukan, ini bukan member SNSD yang jogetnya seksi itu) berhasil mempertahankan benteng yang diserang oleh 30.000 pasukan Jepang! Mau tau jumlah pasukannya Jenderal Kwon? Cuma 2.300 orang. Plus 40 Hwacha. Sedemikian tangguhnya pertahanan Jenderal Kwon, sampe pas beres tempur pasukan Jepang kehilangan lebih dari 10.000 orang. Dan Jenderal Kwon pun bilang klo pertempuran saat itu bisa dimenangkan berkat Hwacha. Kenapa? Soalnya jumlah pasukan Jepang yang 100 kali pasukan Sparta di film itu ternyata justru kelemahan yang besar buat benteng dengan senjata se-badass Hwacha!

hwacha_firing_photo.jpg thumb=1Jenderal Kwon Yul: “Run you sake-drinking, katana-wielding, bastards!! Run for your life!!”

Untungnya buat kita, Mythbusters sempet ngcover Hwacha di salah satu episode. Mereka emang ngebuktiin klo Hwacha ini efektif buat nglawan musuh dalam jumlah yang besar! Dan ternyata untuk multiple rocket launcher generasi pertama, akurasinya bisa dibilang mantap! Simak sendiri potongan klip episode Mythbusters di bawah ini.

Oh, apa di Korea sini ga ada lab yang kerjaannya seru begitu ya? Prof. Choi Museon, kenapa saya tidak ditakdirkan menjadi asisten labmu pada saat itu? Bahan peledak selalu lebih asik daripada, katakanlah, Pressure Transient Testing in Coalbed Methane Reservoir. *tertunduk* *lanjut baca paper*

Komentar Gue Terhadap Sebuah Opini Tentang Korea Selatan

Udah lama ga ngpost pake bahasa Indonesia yang baik dan benar untuk pemakaian sehari-hari gue. Hahaha. Jadi tiba-tiba gue pengen ngpost gara-gara temen gue ngtwit ke gue, “is it true?” sembari ngasih gue link ke sebuah blogpost, yang ngbahas Korea di mata si empunya blog. Gue sih ga masalah yang punya blog mau ngpost apa, cuma ya ada beberapa hal yang gue ga setuju aja gitu. Maka dari itu, gue nulis blogpost ini sebagai “tandingan”, ato istilah masa kininya sih buat second opinion gitu.

Kita mulai dari bahasa Inggris. Doi bener, di sini susah pisan nyari orang yang bisa bahasa Inggris! Oke, definisi bisa bahasa Inggris gue ga tinggi koq, ga perlu presentasiin paper berjudul Pressure Transient Testing in Coalbed Methane Reservoir dengan lancar koq untuk gue bilang “bisa”. Asal bisa ngobrol sehari-hari dengan lancar aja, perkenalan, nanya arah, nanya nomer telpon, nanya udah punya pacar apa belom. Eh. Sori terbawa suasana. Tapi ya emang bener, di sini gue cuma bisa ngobrol bahasa Inggris lancar ama sesama foreigner dan segelintir orang Korea. Gue sih maklum, jangankan ngomong, tulisan aja udah beda. Mereka kudu belajar tulisan berbentuk huruf normal yang diterima dunia global, sedangkan dari kecil mereka belajar bahwa menulis adalah kombinasi antara gambar kotak, lingkaran, dan beberapa garis.


Demi trisula Poseidon! Ini gimana cara bacanya?!

Ya emang sih huruf latin juga kombinasi garis, tapi ya ngertilah ya maksud gue. Jadi ya cukup wajar kata gue sih klo mereka agak kesulitan belajar bahasa Inggris. Klo orang Indonesia mah asik lah mo belajar bahasa mana juga. *nyisir*

Lalu masalah kemenarikan orang Korea. Doi mbahas operasi plastik ama drama di sini. Gue ga mendepak kenyataan bahwa di sini operasi plastik itu marak. ARA Consulting Seoul bahkan bilang, “an estimated 30 percent of Korean women aged 20 to 50 had surgical or non-surgical cosmetic procedures”. Sianjis! 30 persen! Itung punya itung, itu sama dengan 2,4 juta wanita Korea!


Ya seengganya kan ga jadi kaya begini lah.

Tapi liat lagi kalimat si ARA Consulting itu, ada frase “surgical OR non-surgical” di situ, nyang artinya sebagian dari 2,4 juta wanita tersebut bisa jadi kaga operasi, tapi misal cuma pasang behel, tapi bisa jadi juga suntik botox. Btw, botox itu botulinum toxin lho ya, bukan pengkerenan nama makanan Jawa berbahan dasar kelapa.

Bukan apa-apa, miris aja gue gitu, segitu judgmentalnya kah orang-orang kita sama tampang orang Korea. Masa gara-gara keliatan cakep ato gara-gara ga bisa bedain tampang lantas dibilang operasi? Lah beberapa temen bule gw juga ngaku ama gw klo dia kaga bisa bedain orang Indonesia ama Filipina, ya masa iya kita mau dibilang langganan di dokter bedah kosmetik yang sama? Ya ogah dong cyiinnn. Intinya klo kata gue mah, klo masalah tampang, klo emang cakep ya cakep aja. Biarin aja sih. Nikmatin gitu. Lagian ga semua cewe Thailand yang cantik itu dulunya punya penis kan?


Natt: “Jahaaattt ihh~ Aku kan beneran cewe~”

Masalah drama, yang lucu adalah si penulis blog di atas bilang klo drama Korea itu “bertolak belakang sama kehidupan sehari-hari”. Ebuset. Err, seinget gue sih klo sama kaya kehidupan sehari-hari jatohnya reality show bukan drama. Sedangkan reality show aja masih ada skenarionya. Hahaha. Ide cerita nyontek dari Jepang? Siapa sih yang ga nyontek drama bagus dari Jepang? Ada sih, di Indonesia tuh “drama” seri super-panjangnya original tuh! Di KFC kita kudu milih mo ayam yang original ato crispy, lah sinetron drama seri Indonesia itu langsung dihidangkan originally crispy! Keren ga tuh?! Sekarang tinggal tunggu judul baru, Suster yang Tertendang.


Ini trailernya. Sengaja dibikin semi-dokumenter gitu biar makin gres.

Klo masalah model pakean sih gue ngangguk-ngangguk. Apa yang dibilang ama dia emang ampir semuanya bener. Berhubung eike bukan Ivan Gunawan, jadinya tampak sulit untuk berkomentar lebih masalah fasyong. Begitu juga dengan masalah sotoy, pada umumnya orang Korea yang gue temui di sini sangat bangga dengan negara mereka, yang wajar tentunya. Cuma kadang jatohnya jadi sotoy. Ini emang ngeselin. Misalnya aja, beberapa orang Korea sini bangga banget mereka punya 4 musim. Yaelah, di Indonesia mah musim ada belasan kali. Mau apa? Dari musim hujan, musim kemarau, musim rambutan, ampe musim layangan aja ada! Untungnya sih gue ga dikelilingi orang-orang macem begini. Dan semoga saja ngga akan.


Musim Mas Group pun ada di Indonesia! Punya ga lo? Hah? *nyolot*

Yang terakhir masalah budaya dan heritage Korea. Ini yang menurut gue salah banget nih. Korea itu sebenernya kaya akan kebudayaan dan sejarah! Tau Three Kingdoms? Itu lho, yang di Cina, yang Kerajaan Wei, Shu, ama Wu. Yang dibikin game bacok-bacokan anti-stres dan beberapa film. Nah! Three Kingdoms itu juga ternyata ada di Korea! Baru tau? Wajar, wong jarang banget diekspos. Bahkan salah satu kerajaan Three Kingdoms-nya Korea pernah jadi sekutunya Wei, untuk kemudian jadi musuhnya juga.


Lah ini malah ada semacem gamenya! Baru tau juga gue!

Intinya pada exposure kata gue, klo exposurenya lama, jadinya lebih lama juga kesempatan cahaya untuk masuk ke kamera. Eh. Maap, lagi pengen punya DSLR soalnya. Kita ga pernah ato jarang denger sejarah epik Korea karena emang jarang dibahas. Entar kapan-kapan gue bahas seru-serunya deh masalah sejarah kerajaan Korea. Klo niat. Hahaha.

The Discrimination: “My Kid’s Enrollment Got Cancelled Because I Got AIDS”

If you haven’t known already, today (well, at least in my timezone), 1 December 2011 is the World AIDS Day. This day is meant for raising awareness of AIDS, supporting those who are HIV positive, fighting against the prejudice of AIDS, educating people about AIDS, as well as how people can get AIDS and how people WILL NOT get AIDS.

In the middle of the supportive spirit of this day, I found out a sad, very unfair news emerging from my Twitter timeline. To make things even worse, the news is from my beloved country, Indonesia.

So here’s the thing. The child of a man, who is HIV positive, got accepted into Don Bosco elementary school at Kelapa Gading. But then, today, this man, Fajar Jasmin, got a text message from a representative of that school. Below is the screencap of that message, which he also tweeted before.

The text message basically told Mr. Jasmin and his wife, Leonnie Flora Merinsca, that “with a heavy heart, we have cancelled our decision on accepting Imi (the child’s name) as a student of Don Bosco elementary school“. The school’s representative stated that the cause of this incident is that “some of the parents of other students object the presence of Imi“.

If this is not a discrimination, I don’t know what it is. Oh wait, may be it is a very naked discrimination. The most important thing is that Imi got accepted at first! Then, just because the father’s HIV positive, Imi got denied the deserved enrollment. I think that Mr. Jasmin would feel less agitated if the discrimination was against him, but this is against his child! C’mon, what parents would stand idle if their children got discriminated? And the child is not even at fault here!

What I found most disgracing about the school (and maybe also the school foundation) is that they hide and cower behind the back of “other student’ parents“. That’s just plain low. For Jesus Christ’s sake, they just denied themselves the right to give proper education, leave alone as school. IMHO, as school they should have fight the prejudice and discrimination, not promoting it like this.

One of my friend said that “one of the solution is to meet with other parents and explain about AIDS, etc and convince them that the child won’t be a harm to the community”. It may be one of the solution, but as far as I’m concerned, that’s only escalating the level of discrimination. For me the best solution is THE SCHOOL. The school should have the courage to break this wall of false paradigm and assumptions about AIDS! Break the wall of discrimination! At least for me, that what’s being a school means! If they don’t have enough courage to do it, don’t even bother teaching the students about moral conducts, they’ve failed at giving example, thus would make them hypocrites.

Mr. Jasmin seemed to plan to take legal actions for this incident and by God, I’m with him. I can’t do much, I know. I can only help spreading the words. And if any of you want to help Mr. Jasmin for this case, you can contact him (@fajarjasmin) or his wife (@LeonnieFM) at Twitter. May the discrimination falters and the glory of embracing others reigns!

ps: Dear Sir, that’s one cool name your child got. Props to you and your wife.