The Blues: It’s Monday.

Here I am, laying on my back on the couch. Staring at the ceiling. They are bright, the bulbs on the small chandelier are actually bright. All the while feeling a hole gaping in my mind. Or is it in my heart? I don’t really think that matters. The point is there’s a gaping hole somewhere in me.

Just some 30 minutes ago, I was laughing, making faces, and having nice conversations with some friends. Now that I’m back in my studio apartment, I can’t even summon the slightest of smile. Am I sad? I don’t think so. I mean, I’d know it if I feel sad, right? What I feel now is most possibly nothing. The constant dripping sound from the leak of my air conditioner doesn’t really help to discern what is it really. I have filed complaint to my property agent and the contractor will send someone on Monday (which is technically today, in my side of the world). But can I actually complain? I have a place to stay and the apartment unit is actually nice. A studio unit indeed, but I can host 3 people easily in this unit. Some people doesn’t even have a roof above their head when they go to sleep.

What am I rambling about anyway. I know the answer already and I know I’m just trying to escape from knowing it. Trying to prolong the imaginary stalemate, one fabricated on mushy ground base of reason. What I feel is loneliness. That gaping hole is, and always is, loneliness. What I realized from time to time now is that loneliness hits you the hardest right after you spent some time with someone. Right after you pulled out of the human connection, BAM! Hello there, person, time to feel distant!!

As I said, it’s Monday. I can always blame it on Monday. A sleep will do. It will, as always.

The Thought: When “Best” is Not Enough

It was a calm, starry night. The couple embraced loosely, though anyone would be able to see the deep romance between them. As he leaned for a kiss, the guy started the conversation, “Thank you. For being with me.” The kiss was short and the girl smiled. “Isn’t this the best time of our life? Just you and me. In love.”, she said.

The guy opened his mouth. He paused for a second and slowly replied, ”I’m afraid not. A time with you can never be the best time for me.”

The girl was visually startled, but intrigued. She asked, “Why is that?”, trying to sound as nonchalantly as she could.

“Listen. I love you. I want to be with you until forever, if God allows.”, he stared at the sky before continuing, “To say that this is the best time of our life is unfortunate. Best is far too absolute of a word. What if we got married? Isn’t that better than now? What if when we sit together on the park bench, looking at our kids playing happily together, and we’re still madly in love with each other nonetheless? Isn’t that better than when we got married?”

The girl smiled. She knows all too well where he was going with his train of thoughts. Touching his cheek, she asked, “So?”

“So that’s that.”, the guy was now holding the girl hand that just caressed him. “To love you is not hoping to have the best time of my life. It’s to have better times. Each time I see you, kiss you, hug you, listen to you; every time I experience you with any sense that God has given me, it is always better than the previous one. You..”, he smiled as he looked at her deep in the eye, “You will only make my life better.”

And than they kissed. Not the best kiss ever, but obviously a better one than before. A one kiss that will be followed by lots and lots more of better kisses.

The Vacation: Yokoso Japan! (Part 1, The Flights)

Setelah sekian lama, rasanya sudah saatnya saya mengisi kembali blog ini. Kebetulan bulan kemaren juga abis beres liburan ke sebuah negara impian para pria seusia saya yang sering kehabisan tisu di kamar. Ya, saya baru saja pulang dari Jepang. Ngga baru saja juga sih, soalnya seperti yang dibilang barusan, udah sebulan lewat liburannya. Tapi kangen. Ah elah. Jadi ceritanya mulai dari blogpost ini, saya mau bercerita tentang liburan kemaren dalam beberapa part. Karena waktu 2 minggu muter-muter Jepang itu ngga gampang nyeritainnya dalam satu blogpost buat penulis macam saya. Dan “penulis” di situ adalah blogger yang ngecek blognya sendiri sebulan sekali aja ngga. Jadi mohon maklum.

Di Part 1 kali ini saya mau cerita soal penerbangannya ke Jepang dan pulang dari Jepang aja deh. Biar ga panjang-panjang amat. Kenapa sampe harus diceritain penerbangannya? Karena ada unsur “PK” di penerbangan ini. “PK”-nya saya itu “Pertama Kali” sih artinya. Kan kata cewe-cewe jadi cowo harus “PK”. Sama sekalian pongah dikit. Dikiiittt.

12004831_10153627372447863_3346404633740029658_nAsik! Dapet invitasi masuk MAS Golden Lounge KLIA!!

Jadi perjalanan saya dimulai dari atas itu. Ya, saya booking tiket Vietnam Airlines rute KUL-SGN-NGO dan pulangnya juga NGO-SGN-KUL. Semua demi tier mileage Garuda Indonesia (karena GA dan VN sama-sama member SkyTeam) dan ke Nagoya juga biar sekalian ketemu ama temen. Sotoynya saya adalah buat flight ke Jepang itu saya book Business Class, makanya bisa masuk lounge-nya Malaysian Airlines di KLIA. Tadinya agak takut bakal kena delay ato cancel karena langit KLIA sore itu emang masih berkabut asap. Cuma ternyata delay-nya ngga signifikan, cuma 10-15 menit gitu lah. Fiuh. Eniwei, karena ada satu stop di Ho Chi Minh (yang dulu bernama Saigon, makanya kode bandaranya SGN), flight total ke Jepang ini jadi terhitung 1 short-haul flight dan 1 medium-haul flight, makanya pesawat yang dipake VN pun bukan pesawat gede sekelas Boeing B777 atau Airbus A330. Seinget saya, VN make Airbus A321 buat kedua flight ke Nagoya itu.

FotorCreatedSearah jarum jam dari kiri atas:
Pre-flight syampein (bukan sampeyan), suasana cabin Biz, menu inflight meal Biz, dan grilled beef tenderloin pesanan saya

Berhubung sotoy, begitu ditawarin sama pramugari pilihan pre-flight drinks, saya langsung milih champagne. Beruntung saya mesennya bukan “Yes, I want the sham-pag-ne, please”, orang Prancis ada-ada aja dah ah. Sehabis take-off, si pramugari kembali menghampiri saya untuk merayu, mengajak saya ke… Eh maaf, saya sedikit tertukar antara skenario dan realita. Ehem. Jadi trus saya dikasih menu seperti di atas. Karena sok-sokan bule, saya pun memesan grilled beef tenderloin yang dalam bahasa Vietnam sangat susah untuk disebut. Tapi yah buat saya apa juga susah klo pake bahasa Vietnam. Sempet syok sedikit karena di menu tertulis Kuala Lumpur – Hanoi. LAH KAN SAYA MAU KE HO CHI MINH!! Jadi bulak-balik ngecek boarding pass ama layar informasi. Nah, ngomong-ngomong layar informasi, flight KUL-SGN pake Vietnam Airlines ini ternyata ga ada In-Flight Entertainment-nya, di Business Class juga ga ada. Jadi kangen Garuda. Tapi berhubung penerbangannya cuma 1 jam, jadi emang ga ngaruh–ngaruh banget.

FotorCreated_2Penampakan buffet table di lounge Vietnam Airlines di Ho Chi Minh. Minuman pun free-flow~ Yuhuu~ Tapi saya kembung air putih koq. Botol-botol lain sungguh asing soalnya.

Sesampainya di Ho Chi Minh, saya langsung menuju Business Lounge, alias ngga mau rugi. Enak sih loungenya, pas saya dateng juga ngga rame. Makanannya masi cukup banyak dan masi anget-anget. Tapi yang bener-bener bikin sumringah adalah pojok minumannya. Huehuehue. Buat yang demen minum minuman beralkohol, mungkin akan sangat senang di sini. Tapi ingat yah, boarding staff berhak menolak penumpang masuk klo disinyalir terlalu mabuk. Bahkan mabuk cinta sekalipun. Engga deng, itu saya ga tau. Tapi yang jelas saya ngga minum banyak koq. Cuma beberapa gelas Baileys, karena itu doang liquor yang saya suka.

Penerbangan SGN-NGO secara relatif ngga terlalu seru. Mungkin karena saya ngantuk kali ya, jadi sebagian besar waktu di penerbangan SGN-NGO ya buat tidur. Sendiri. Ya susah juga sih tidur berdua di pesawat. Pertama, kabin Business class tetep aja ngga muat. Kedua, sama siapa emang. Tapi sebelum saya tidur, Mbak Pramugari memberikan sebuah tas kecil yang isinya banyak perlengkapan tambahan, kaya sisir, lip balm, body lotion, tisu basah, dll. Kenapa tidak sekalian vaseline yah? Mungkin body lotion cukup. Ehem. Ada juga stiker yang intinya minta dibangunin klo September sudah berakhir. Bukan deng, emang Green Day. Dibangunin klo inflight meal udah mau disiapin maksud saya. Jadi itu stiker saya tempelin deh ke bagian kursi yang mudah diliat si Mbak Pramugari. Sisa waktu penerbangan ke NGO ya gitu, kurang seru. Ternyata di SGN-NGO ini ada inflight entertainment-nya, cuma pilihannya sangat terbatas klo dibandingin ama medium-haul flight punya Garuda misalnya. Plus saya lupa poto-poto juga. Intinya itu sih. Hahahah.

Oke, seperti dibilang di beberapa bagian blogpost ini, saya anaknya agak sotoy. Jadi, karena perginya udah pake Business Class, pulangnya saya pengen ngrasain naik Economy Class-nya Vietnam Airlines. Alias emang ga ada duit aja buat booking bolak-balik di Business Class. Nah, karena di Business Class aja IFE-nya cuma ada pas SGN-NGO, maka bisa ditebak klo 2 flight balik ke KL (NGO-SGN, SGN-KUL) ngga ada fasilitas IFE-nya sama sekali. Ya ada sih sebenernya, tapi ga satu seat satu gitu, ada overhead monitor kecil yang bisa ditonton bareng-bareng, tapi saya lebih milih baca buku yang emang udah disiapin sebelumnya.

FotorCreated_3Menu minuman dan makanan untuk inflight meal service Economy Class NGO-SGN Vietnam Airlines dan sebotol kecil sake untuk menemani bacaan The Silmarillion

Satu hal yang saya agak seneng adalah VN tetep ngasi daftar menu ke penumpang Economy di rute NGO-SGN dan pilihannya pun menurut saya tetep oke. Terutama di bagian drinks, karena ada apa? Ya ada yang di foto di atas itu. Ada Japanese Sake!! Karena di udara pun saya udah kangen ama Jepang, jadinya saya pesenlah itu sake-nya. Lucu juga kemasannya, itu tutup botolnya klo dibuka lantas jadi cangkir kecil buat minumnya. Walhasil sebotol-botolnya saya bawa pulang. Lumayan, buat hiasan paling ngga. Untuk rute NGO-SGN ini saya mesen Eel Donburi, lagi-lagi karena belum rela meninggalkan Jepang. Hahaha. Abis makan, sisa waktu sampe ke Ho Chi Minh saya habiskan dengan membaca buku di foto itu, The Silmarillion. Buku awal dari segalanya di semestanya Lord of The Rings. Tapi ternyata kombinasi “ensiklopedia” dan sake cukup sukses membuat saya tertidur beberapa kali.

FotorCreated_4Atas: Nasi belut dengan soba dingin dan pernak-perniknya (NGO-SGN)
Bawah: Nasi ikan dengan beef salad dan potongan buah (SGN-KUL)

Inflight meals untuk penerbangan NGO-SGN dan SGN-KUL menurut saya sih lumayan yah. Bedanya cuma di SGN-KUL, seinget saya ngga dikasih menunya. Di flight SGN-KUL ini tapi ada ceritanya nih. Jadi saya dikasih seat sesuai dengan request pas booking, yang bikin “seru” adalah ternyata saya sebaris sama seorang mama muda yang cukup menarik. Faktor yang bikin ngga seru adalah bahwa si mama muda ini naro anak balita rewelnya di antara kita berdua. Asik, antara kita berdua. Beruntung earphone bawaan Galaxy S5 saya cukup ampuh untuk menyaring rewelannya si anak ini. Berhubung saya seorang lelaki yang mengerti susahnya traveling dengan anak kecil…Hmm, kalimat barusan menyiratkan saya sudah berkeluarga dan punya anak…Saya single koq, ladies *sly grin*. Intinya sih saya membantu sebisanya agar si anak ini ga rewel-rewel amat. Rewardnya ternyata adalah beberapa senyuman manis manja dari si mama muda dan bonus beef salad jatah anaknya yang ketiduran. Hahaha. Di beberapa kesempatan, si mama muda juga menunduk-nunduk, sampai saya agak salah tingkah karena bisa melihat…err…anu…emm…belahan…belahan hidupnya yang dia berikan bagi anak-anaknya. Sungguh. Beberapa jam kemudian, setelah dua minggu lebih sedikit, sampailah saya kembali ke apartemen saya di KL. Siap untuk istirahat dan pergi bekerja kembali di keesokan paginya. Fuaaahhh…

The Resignation: Percayalah~ Oshi~

Waduh…Mau nulis blog lagi, tapi tentang jekate-jekatean. Terakhir nulis blog juga tentang itu. Ngapa jadi begini amat ini gw? Hahaha. Tapi ya sudahlah. Mungkin saya rindu. *ya elah* Eniwei, sebenernya nulis ini gara-gara dapet berita mengejutkan, member paforit saya bakal udahan jadi member jekate.

MEEEENNNN! Seriusan men? SERIUSAN?

Sebenernya sejak sebuah insiden yang belum lama terkuak (asik ga bahasa gw?), sudah ada indikasi dan potensi yang mengacu pada sebuah konklusi yang akhirnya akan terealisasi setelah hari ini. Agak sedih sih ya, soalnya gw sendiri karena satu dan lain hal kaga bisa ikutan event HS Kokoro no Placard yang bakal jadi event HS terakhirnya si jagoan gw ini. Otomatis terakhir ketemu ya event HS Gingham Check kemaren. Padahal abis event itu sengaja bela-belain nonton teater, dengan harapan bakal ngliat lagi di panggung. Terlanjur kesengsem ama perform dia di Tsukimisou. Menggemaskan. Etapi sampe gw kudu balik ke KL, ternyata dia kaga ada jadwal manggungnya. Mana blom sempet ngliat dia duet bareng Ve pula di Shinkirou. Dem.

*huft*

Tapi seengganya udah ngirim fanlet tulisan tangan sih. Simpel memang, konon sih yang penting isinya. Itu nulisnya belom tau klo beneran bakal cabut, eh, abis balik dari kantor pos lokal sini, besokannya beneran pengumuman resmi. Sungguh mencengangkan. Gw ga bakal panjang-panjang mencurahkan pikiran dan perasaan gw terhadap keputusan jagoan gw ini di blogpost ini sih, biar di fanlet itu aja. Biar ceritanya lebih personal gitu *cie cie cie*. Yang jelas apapun yang dia rencanakan setelah udahan dari aktivitas jekate-jekatean, gw doain semoga semuanya lancar dan bisa terus memberikan kemaslahatan bagi dirinya dan orang-orang di sekitarnya.

Semangat selalu ya Rica. Terima kasih untuk kenangannya selama kamu jadi member JKT48. Walaupun aku blom sempet lama ngfans sama kamu, tapi sebagian besar momen juara aku di fandom ini ada berkat kamu. Sorry I couldn’t do a lot as a fan. Good luck on everything you’re planning after this. Meet you as friends next time? =P

The Handshake: Ajang Silaturahmi Non-Lebaran Kedua (Buat Saya)

Melipir sejenak dari postingan soal pengalaman bekerja di negeri jiran, sekarang gw mau menuangkan jiwa fandom dulu ah. Hahaha. Jadiiii, klo misalnya ada yang iseng baca-baca blog gw ini ke bawah-bawah, ga bakal lama bakal ketauan sih klo gw itu demen idol-idolan. Yah… Malah gw sebut, yang belom ngeh jadi ngerti kan. orz

Sekarang gw mo cerita-cerita soal pengalaman kedua gw bertemu kangen dan silaturahmi sebentar dengan beberapa member JKT48. Yoi. JEKETI FORTI EIT! Kekinian banget ga sih gw idolnya? Gw dapet kesempatan buat ikutan handshake event yang Gingham Check, sekitar 2 minggu yang lalu. Sebenernya sih ga sengaja. Emang kebetulan dapet tugas dari si bos buat client visit tanggal 8-10 Oktober kemaren, jadi ya disekalianin aja balik dari tanggal 3. Ngga koq, ngga bela-belain cuti pas tanggal 3 ama tanggal 7 koq, ngga. Ngga koq, ngga beli-beli tiket jauh-jauh hari koq, ngga. Ngga koq, ngga pake rayu-rayu si bos biar sekalian client visit segala koq, ngga. Bener deh. Beneran.

Kaya slogan iklan salon 90an, “Percayalah apa yang dikatakan Rudi!”
Tapi saya bukan Rudi. Jadi….. *nyengir*

Eeeeeniwei. Akhirnya gw dateng ke event ini bersama anak-anak jalanan aspal. Datengnya agak buru-buru gara-gara Sesi 1 itu jam 10 dan kita baru berangkat dari Pondok Bambu 9.30. Tapi berkat Rey yang sama unggulnya di belakang setir seperti di belakang keyboard, yang ikutan Sesi 1 masih sempet berjumpa dengan sumber rindu mereka. Untung aja kloter gw ga berangkat dari Bekasi. *fiuh* Gw sendiri ga bersilaturahmi dengan banyak member koq. Pada akhirnya gw cuma berpegangan tangan dan bertatap penuh makna sama (sesuai peringkat prioritas rindu *gitu*): Nina, Shani, Lidya, Yona, Acha, Shania Gracia (gw panggil Esji), Desy, Veranda, dan Rica.

P (Pembaca): Buset! “Cuma” sih ya 9 member…
G (Gw, bisa juga Ganteng): Yaaaa… Jarang-jarang juga sih kan, gapapa laaa~
P: Pasti make banyak tiket HS ya ini ya? Sasugaaaa!
G: Kagaaaa. Cuma dikit koq.
P: Ah! Kamu kan bukan Rudi!
G: Yeee.. Beneran kali ini, ga pake boong. Paling banyak ama Ve, itu juga cuma 4 tiket.
P: Eh? Kali ini? Berarti yang di atas yang sekalian tugas itu boong?
G: Eh? Apa? Gimana? Bentar coba saya jangan diganggu mo lanjut nulis dulu…

Ya karena jarang-jarang bisa ketemu sama mereka, konsentrasi kangen gw udah jenuh banget sih. Makanya kudu disalurkan biar ga, terlalu kental. Entar keras. *uhuk* Pas HS sendiri cuma ada sekelumit momen-momen yang bikin senyum-senyum sendiri klo diinget-inget lagi. Pas ngasihin gift itu mereka reaksinya macem-macem, ada yang excited, ada yang stay cool, malah ada yang kaget mundur gara-gara ngira klo gw ngluarin gunting ^^; Buat gw pribadi sih yang paling kena itu momen sama Rica dan Ve, disusul Desy di urutan ketiga.

Maria Genoveva Natalia Desy Purnamasari Gunawan *fiuh*
Photo by Andika Anwar

Flashback dikiiiit, gw landing di SHIA itu tanggal 3 jam 2an dan langsung cabut ke fx, ngejar Pajama Drive. Ceritanya mo ngasi tau klo besokannya bakal dateng HSnya dia. Pas HS sendiri untungnya si Desy masih inget gw. Hahaha. Anak ini emang lucu sih ya, bawaannya seneng gitu ngobrol ama dia biar bentar doang juga. Gapapa deh, yang penting kemaren anak-anak jalanan aspal pada kenalan ama Desy, semoga ikutan ngdukung Desy juga ya! Btw, di event ini gw malah menang banyak di booth jualan coklat itu. Bisa ngobrol-ngobrol sama Beo Acha, Desy, dan Esji (lucu banget!) sekalian bertiga dan berasa 3-4 tiket sendiri. Hahaha.

Rica Leyona
Photo by Andika Anwar

Nah ini dia nih jagoan gw klo jeketi-jeketian! Setelah di HS sebelumnya blepetan pas ngomong, di HS sekarang sukses menyapa dengan “Hai mata kejam!”. Hahaha. Sebenernya mah HS ama Rica ini cuma pengen ngasih gift aja. Tapi akhirnya beli buat dua sesi, itung-itung nraktir temen dan pacarnya yang akhirnya menghasilkan salah satu percakapan paling cihuy pas mereka cerita ke anak-anak. RRD bikin reka ulangnya lho! Ntar diuplot deh! Eniwei, agak sedih sebenernya ngliat jagoan gw jalurnya sepi. Beberapa omongannya pas HS semacam punya makna implisit “Ramein sesi aku dong. Sepi nih”. But then again, I might be overthinking stuff. Semoga next time bisa lebih banyak ya Rica~

Jessica Veranda
Photo by Andika Anwar

RAJA TERAKHIR!! Ibarat maen FF6, Ve ini Kefka banget (FF Classics FTW!). Bedanya, klo Kefka itu insane, Ve itu bisa bikin orang insane. Sama jauh lebih enak diliat aja sih daripada Kefka. Hahaha. Temen-temen RRD udah wanti-wanti soal HS ama Ve dan bener aja, ada kali gw 10 detik blepetan parah pas HS. Maklum, haki gw belum sekuat skymen, untung ga ampe tiba-tiba pingsan dan berbusa mulut gw. Hehe. Gimana ya? Udah suaranya lembut, matanya juga bikin adem. Sama Ve ini gw juga sebenernya cuma pengen ngasih gift sih. Seneng juga ngliat reaksi Ve bagus pas gw ngasi pembatas buku sama baggage tag,”Wah! Ini lucu banget!“. Hehe. Semoga kepake ya, Ve~

Anjir udah panjang aja..Saya akhiri sebentar lagi deh. Soalnya mo cerita satu kejadian lagi pas gw mau pulang ke Kuala Lumpur. Back story-nya, gw remeh (banget) dua kali maksa teateran di hari yang sama dengan kedatangan dan keberangkatan gw (ampe bawa-bawa koper ke teater, makasih dan maaf buat Kang Fikri dan tim sekuriti, udah ngrepotin ^^;).

Abis nyampe Jakarta, langsung Pajama Drive. Sebelum balik ke KL, Demi Seseorang dulu.
Efek rindu memang kadang seperti ini. Sayang ga sempet nonton jagoan gw. Belum tuntas deh rindunya. orz

Nah kan gw naik Garuda, pas masuk ke boarding lounge gw dapet stiker merah yang artinya Front Row. Selain stiker merah, ada stiker biru dan ijo yang artinya Middle Row dan Rear Row. Oke, now don’t beat me to the punchline, here. Hahaha. Pas mau boarding, I swear to God, si boarding officer-nya ngomong begini:

Oke. Yang ijo masih ada? Ijo? Oke ya, sekarang biru masuk ya.

DE JA VU! Dan gw pun berusaha kerasa untuk tak akan mengkhianati nahan ketawa! Hahahaha!!!

The Working Adult: Kisah Seorang Enhinir di Negeri Orang (2-bersambung)

Jadi sekarang gw mau nglanjutin certa-cerita pengalaman gw sebagai TKI di Malaysia. Sebenernya TKI itu istilah yang bisa gw pake ga sih? Soalnya gw kan mikirnya TKI itu Tenaga Kerja Indonesia dan gw ya orang Indonesia yang bekerja di Malaysia. Anywho, kerja sebagai engineer di Malaysia (lebih tepatnya di Kuala Lumpur) itu ternyata cukup menyenangkan. Karena jatohnya ya gw dihargai sebagai expatriate di sini. Tanggung jawab yang gede sih buat gw, setiap saat bisa aja kan ada engineer lokal yang tentunya akan lebih murah. Tapi ini membuat gw bisa ngliat situasi di Indonesia dari kaca mata expat.


Ini .gif-nya ga nyambung sih, cuma mau ngasi tau doang soalnya.
Kaca mata saya belinya di Jeonju lho, di toko kaca mata orang tuanya Taeyeon. Ehe~

Seperti yang gw bilang di blogpost untuk seri ini sebelumnya, there’s rarely a dull moment in here. Well, seengganya pas weekdays. Klo pas weekend…Err…Gw bahasa di blogpost selanjutnya aja kali ya (yes, nambah bahan). Kenapa jarang ada dull moments? Because this is my FIRST FRIGGIN’ JOB! Pengalaman kerja gw ya efektif nol. Jatohnya banyak momen di mana gw suka kesel sendiri berasa kaya incompetent numbnut. Hahaha. Ya gimana ngga, lima minggu setelah gw masuk, kolega gw kudu keluar Malaysia selama dua minggu. Jadilah project yang lagi dia kerjain itu dioper ke gw sementara. Project yang biasa dikerjain engineer berpengalaman 5 tahun dioper ke engineer berpengalaman 5 minggu. Let that sink a moment in your head. Lima tahun versus lima minggu.

Confused!!
Reaksi pertama gw: “Ini model* musti gw apain?”
*) Model reservoir. Klo model semacam Yeon Dabin gitu, gw udah ngerti kayanya harus ngapain. Ehe..

Seperti yang sudah gw duga, gw ga bisa berbuat banyak. Untungnya si proyek ini ga lagi dikejar deadline, jadinya setelah gw utak-atik dan masih ga berhasil dapet solusinya juga, si engineer yang berpengalaman pun kembali ke KL dan kembali ngerjain ni proyek. Fiuh. Lega rasanya. Bisa elus-elus dada. Elus-elus dadanya siapa hayo~ *dilempar pemirsa karena aura pervert mulai menyeruak*

Ga berapa lama setelah itu pun gw dikasih tugas training pertama gw. Trainingnya di Jakarta. Jadi gw jatohnya pulang ke Jakarta, dibayarin tiket pesawat, dan dikasih hotel. Sedap. Agak gugup sih tapi sebenernya, biar bagaimanapun ini adalah training gw yang pertama. Pertama kalinya bawa nama perusahaan ke orang lain secara tatap muka. Untungnya semua berjalan dengan lancar dan gw rasa gw dapet feedback yang cukup baik dari klien-klien yang dateng. So, first training assignment, DONE!

YEAH!
HORE!!! BERES!!! GA MALU-MALUIN PERUSAHAAN!!!

Buat gw pengalaman training ini cukup surreal gitu deh.

Pembaca: “Emang surreal artinya apaan, Van?
Gw: “Tau lah! Susu pake sereal kan?”
Pembaca: “…..”

Ga ada setahun yang lalu (dihitung dari pas gw ngasi training pertama), gw adalah orang yang duduk dan menerima training dari perusahaan ini. Dan sekarang, gw adalah orang yang berdiri di depan dan ngasih training. Man, how time goes…

The Farewell: Rest in Peace, Azhar

Hari ini gw dapet berita duka. Temen gw, anak Sipil ITB 2005 dan kawan satu hobi, Azhar Rolib dikabarkan meninggal dunia. Pertama dapet berita dari temen gw dari WhatsApp, ga percaya gw. Gw minta temen-temen gw dari circle RRD buat konfirmasi. Kemudian gw liat Facebook-nya Azhar. Isinya ucapan duka cita dan selamat tinggal semua. Gw langsung shock.

Azhar sama gw ga bisa dibilang temen deket. Malah beberapa bulan sebelum ini, pertemanan kita agak renggang gara-gara ada salah-salah omong. Azhar itu memang unik. Dia begitu passionate dengan hobinya, sangat fokus. Mungkin ini penyebab kerenggangan pertemanan gw sama Azhar. Tapi itu ga lantas membuat gw mengganggap Azhar sebagai bukan teman sih. Karena pada dasarnya dia orang yang baik. Gw pribadi beberapa kali ditolongin sama dia di beberapa situasi. Buat gw, Azhar adalah seorang teman dan ini membuat gw tetep sedih denger berita ini.

Gw pertama liat Azhar itu pas sidang umum penerimaan mahasiswa baru ITB. Ga ada yang ga ngliat Azhar gw rasa. Dia masih gede banget dulu. Abis itu ga ketemu-ketemu lagi. Dia di Sipil, gw di Perminyakan. Jauh. Kemudian setelah sekian lama, dia yang nyapa gw duluan di fx Senayan. Gw pangling, dia jauh lebih kurus dibandingin pertama kali ngliat. Dari sini lah gw lebih deket ama si Azhar, sama-sama nonton Teater JKT48. Bahasa romantisnya, JKT48 ini lah yang kemudian jadi penghubung gw dengan Azhar. Waktu bergulir. Hahahehe bareng di fx Senayan, melipir dikit ke PJS (pinggiran Jalan Sudirman) buat ketoprakan, ngobrolin siapa di eye-lock siapa, ke-stun sama member yang mana, diwaro sama siapa, dan seterusnya.

Siapa sangka, hahahehe bareng pas event Handshake Flying Get di Balai Kartini, nyiapin event jeruk buat Dhike itu bakal jadi momen hahahehe bareng terakhir gw sama Azhar.

Fast forward to today. Udah ga akan ada lagi tuh obrolan-obrolan bareng Azhar. Pertama kali dikonfirmasi klo Azhar meninggal, reaksi gw cuma satu, “Ya Tuhan. Perpisahannya harus begini banget ya?” Gw langsung ga bisa konsen kerja dan minta ijin ama bos gw. Di apartemen, mata gw langsung basah. Tapi ya memang beginilah rencana Tuhan. Beginilah yang Dia pandang baik. Untuk Azhar, dan untuk kita semua yang ditinggalkan. Semoga keluarga dan kawan-kawan yang ditinggalkan diberikan ketabahan serta kekuatan untuk mengikhlaskan kepergian Azhar.

Rest in peace ya, Zar. Langit di sana cerah kan?

Terima kasih ya Yona. God bless your kind spirit.